Rabu, 23 Juli 2014

HAK AZAZI MANUSIA DAN PAMER KEMUNAFIKAN

Hak asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia masih dalam kandungan. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) sedangkan di Indonesia tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1
Dalam perkembangannya,  HAM yang kita kenal sekarang adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan yang hak-hak yang sebelumnya seperti yang dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika atau Deklarasi Perancis. HAM yang dirujuk sekarang adalah seperangkat hak yang dikembangkan oleh PBB sejak berakhirnya perang dunia II yang tidak mengenal berbagai batasan-batasan kenegaraan. Sebagai konsekuensinya, negara-negara wajib  melindungi HAM seluruh warga negarnya dan orang asing yang berada di kawasannya. Demikian juga negara asing tidak boleh sewenang-wenang dengan warga negara lainya. HAM  menjamin setiap manusia, tidak memandang dari mana dia berasal, dari negara mana, apapun warna kulitnya dan apapun agamanya  mendapat perlindungan dari kesewenangan dari pihak manapun.
Namun dalam praktek sehari-hari semuanya ini adalah omong kosong. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang merupakan corong HAM, secara telanjang mempertontonkan kemunafikan mereka tentang HAM yang mereka agung-agungkan. Sehingga kita mengambil kesimpulan bahwa bagi negara barat yang kuat, HAM hanya berlaku untuk golongan mereka saja dan kelompok yang sehaluan dengan mereka. Tapi bagi manusia yang tidak sealiran dengan Amerika  dan terutama yang beragama Islam HAM tidak berlaku.
Tidak susah-susah untuk membuktikanya. Berapa banyak manusia dibantai di Mesir oleh Meliter, berapa banyak umat islam yang dibantai Afrika tengah dan belahan dunia lainya, namun pelakunya tidak dikenakan pelanggaran HAM karena pemerintah yang membantai rakyatnya sesuai dengan keinginan Amerika serikat
Yang paling istimewa dan kebal HAM dipertontonkan oleh negara Zionis Yahudi Israil. Mereka dengan bebas boleh saja membunuh orang Palestina kapan saja di mana saja. Hampir setiap hari mereka membunuh orang Palestina, baik di Gaza  ataupun tepi barat. Tidak pernah ada tuntutan HAM terhadap mereka. Demikian juga pembantaian masal yang dilakukan tentera Israil di Shabra dan Shatila Lebanon tidak dimasukan sebagai pelanggaran HAM.
Sebaliknya Presiden Sudan dikatogarikan sebagai penjahat perang karena ia menumpas pemberontakan di Sudan selatan yang didukung oleh negara barat. Tentara kita yang menjalankan tugasnya di Timor timur juga dikenakan pelanggaran HAM, karena Timor timur ketika itu didukung oleh negara barat.
Berdasarkan sejarah negara yang paling banyak melanggar HAM  itu adalah  Negara yang selalu mengkapanyekan HAM itu sendiri yaitu Amerika serikat. Mereka seenaknya saja membunuh rakyat sipil dalam perang Vietnam, Kamboja, Laos, Afganistan, Irak, dan lain-lainnya .Kesimpulannya, HAM adalah budaya munafik negara barat.
Namun sangat disayangkan negara Arab atau orang Islam yang selalu menjadi korban tidak tergerak hatinya untuk melawan ketidak adilan ini baik secara organisasi maupun negara. Sepertinya mereka ikhlas saja menjadi korban.


Read More >>

Senin, 16 Juli 2012

MENINGKATKAN PENGUASAAN KOSA KATA DALAM MENULIS TEKS RECOUNT MELALUI MEDIA GAMBAR SISWA KELAS X SMAN BINAAN KHUSUS KOTA DUMAI



Drs. EDI PRAYITNO
SMA NEGERI BINSUS KOTA DUMAI
HP. 081365525397


BAB I
PENDAHUALUAN

A.    Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
Untuk kelancaran berkomunikasi secara lisan dan tulis, sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak kosa kata yang dikuasai oleh peserta didik. Bilamana penguasaan kosa kata peserta didik sangat rendah, maka kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis dalam empat keterampilan berbahasa yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis akan sulit terlaksana dengan baik. Idealnya, untuk menghasilkan sebuah teks baik lisan maupun tulis dibutuhkan penguasaan kosa kata yang banyak, sehingga gagasan yang ingin disampaikan terlaksana dengan sempurna.
Kenyataannya, masih rendahnya penguasaan kosa kata bahasa Inggris yang dimiliki oleh peserta didik kemungkinan disebabkan oleh metode mengajar guru yang monoton, atau rendahnya motivasi siswa untuk meningkatkan jumlah kosa kata bahasa Inggris, atau mungkin metode mengajar yang tidak tepat, serta tidak dimanfaatkannya media pembelajaran, bahkan mungkin minimnya bahan-bahan penunjang pembelajaran seperti kamus, buku, dan lain-lainnya.
Sebagai seorang guru, penulis merasa terpanggil untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam pelaksanaan tugas mengajar termasuk juga rendahnya penguasaan kosa kata bahasa Inggris, dan penulis merasa menemukan cara pemecahan masalah tersebut melalui pemanfaatan media pembelajaran namun peningkatan penguasaan kosa kata dalam teks tulis bahasa Inggris peserta didik yang penulis teliti belum teruji secara ilmiah. Oleh sebab itu, penulis membuat penelitian tindakan kelas dengan judul “MENINGKATKAN PENGUASAAN KOSA KATA  DALAM MENULIS TEKS RECOUNT MELALUI MEDIA GAMBAR SISWA KELAS X SMAN BINAAN KHUSUS KOTA DUMAI.”
B.     Identifikasi Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang diatas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.             Metode mengajar guru yang monoton,
2.             Rendahnya motivasi siswa untuk meningkatkan jumlah kosa kata bahasa Inggris,
3.             Metode mengajar yang tidak tepat,
4.             Tidak dimanfaatkannya media pembelajaran,
5.             Minimnya bahan-bahan penunjang pembelajaran seperti kamus, buku, dan lain-lainnya.

C.    Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, penelitian ini dibatasi hanya pada meningkatkan penguasaan kosa kata menulis teks Recount siswa kelas X SMAN Binsus Kota Dumai melalui pemanfaatan media gambar.

D.    Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Meningkatkah penguasaan kosa kata bahasa Inggris siswa kelas X SMAN Binsus Kota Dumai melalui pemanfaatan media gambar?
2.      Bagaimanakah respon siswa terhadap pemakaian media gambar dalam meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Inggris?
3.      Apakah kendala yang dihadapi dalam peningkatan penguasaan kosa kata bahasa Inggris melalui pemanfaatan media gambar?
4.      Apakah pemanfaatan media gambar dapat meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Inggris siswa?

E.     Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1.         Untuk mengetahui apakah penguasaan kosa kata menulis teks Recount siswa kelas X SMAN Binsus Kota Dumai meningkat melalui pemanfaatan media gambar.
2.         Untuk mengetahui respon siswa terhadap pemakain media gambar dalam meningkatkan penguasaan kosa kata menulis teks Recount.
3.         Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam peningkatan penguasaan kosa kata bahasa menulis teks Recount melalui pemanfaatan media gambar.
4.         Untuk mengetahui manfaat media gambar dalam meningkatkan penguasaan kosa kata menulis teks Recount.

F.     Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan penguasaan kosa kata dalam menulis teks Recount siswa kelas X SMAN Binsus Kota Dumai. Adapun manfaat penelitian ini adalah untuk:
1.      Peneliti
a.       Melalui media gambar akan mempermudah peneliti dalam membimbing siswa menulis teks Recount.
b.      Menjadi prasyarat untuk mengajukan usulan kenaiakan pangkat dari IV/a ke IV/b.
2.      Siswa
a.         Mempermudah siswa menemukan kosa kata yang tepat dalam menulis teks Recount.
b.        Meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.





BAB II
KAJIAN TEORI / PUSTAKA
A.       Kajian Teori / Pustaka
1.        Kosa Kata
Berdasarkan World English Dictionary, pengertian kosa kata atau dalam bahasa Inggris vocabulary (vəˈkæbjʊlərɪ) — n  , pl –laries adalah:
1.        a listing, either selective or exhaustive, containing the words and phrases of a language, with meanings or translations into another language; glossary
2.        the aggregate of words in the use or comprehension of a specified person, class, profession, etc
3.        all the words contained in a language
4.        a range or system of symbols, qualities, or techniques constituting a means of communication or expression, as any of the arts or crafts: a wide vocabulary of textures and colours

2.      Teks Recount
A.     Definition of Recount
Recount is a text which retells events or experiences in the past. Its purpose is either to inform or to entertain the audience. There is no complication among the participants and that differentiates from narrative
B.     Generic Structure of Recount
1.      Orientation: Introducing the participants, place and time
2.      Events: Describing series of event that happened in the past
3.      Reorientation: It is optional. Stating personal comment of the writer to the story
C.     Language Feature of Recount
a.         Introducing personal participant; I, my group, etc
b.        Using chronological connection; then, first, etc
c.         Using linking verb; was, were, saw, heard, etc
d.        Using action verb; look, go, change, etc
e.         Using simple past tense
3.      Media Gambar
Menurut Oemar Hamalik (1986:43) berpendapat bahwa “ Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan atau pikiran”. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 329) “ Gambar adalah tiruan barang, binatang, tumbuhan dan sebagainya.”
Menurut Arief Sadiman, Dkk (2003: 28-29): Media grafis visual sebagimana halnya media yang lain. Media grafis untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan disampikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar artinya agar proses penyampian pesan dapat berhasil dan efisien.
Selain fungsi umum tersebut, secara khusus gambar berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin cepat akan dilupakan atau diabaikan tidak digambarkan. Gambar termasuk media yang relatif mudah ditinjau dari segi biayanya.

B.     Penelitian yang Relevan

C.    Kerangka Berpikir


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
            Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa. Metodoligi penelitiannya adalah sbb:
A.    Setting Penelitian
1.      Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di SMAN Binaan Khusus Kota Dumai karena peneliti merupakan guru tetap disekolah tersebut.
2.      Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam tenggang waktu 2 bulan, yaitu mulai bulan september 2012 sampai dengan bulan
3.      Subject
Subject penelitian ini adalah siswa kelas X. 4 dengan jumlah siswa 29 orang yang terdiri dari 7 orang siswa laki-laki dan 22 orang siswa perempuan. Peneliti memilih kelas X. 4 sebagai subject penelitian karena rendahnya penguasaan kosa kata yang mendukung
B.     Prosedur Penelitian
Penelitian ini direncanakan dilaksanakan dalam 2 siklus.
Siklus pertama :
1.         Mencari materi
2.         Membuat RPP
3.         Memberikan Pretest (optional)
4.         Memberikan Perlakuan (Tindakan)
5.         Memberikan pengujian
Siklus Dua:
1.         Menganalisa Hasil
2.         Refleksi
3.         Memberikan Perlakuan (Tindakan)
Siklus Tiga:
1.                   Menganalisa Hasil
2.                   Refleksi
C.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian berupa test tertulis berupa penugasan, Lembar pengamatan,
D.    Analisis Data
Keberhasilan penelitian ini ditentukan oleh meningkatnya hasil belajar dan respon yang baik dari siswa, oleh karena itu untuk mengukur hasil belajar digunakan test tertulis untuk setiap siklus. Analisa data dilakukan dengan melihat peningkatan hasil dari siklus satu, siklus dua, dan siklus tiga yang dijelaskan berupa angka dan deskripsi kemajuan . Sedangkan respon siswa instrumen yang digunakan adalah lembar pengamatan, dan data akan dianalisa melalui deskripsi respon siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
Read More >>

Kamis, 28 Juni 2012

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEXT RECOUNT MELALUI MIND MAPPING PADA KELAS X DI SMAN 14 PEKANBARU


KESUMA HASTUTI
SMAN 14 PEKANBARU

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

          Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional memerankan bagian yang sangat penting. Selain digunakan sebagai media untuk berkomunikasi juga digunakan untuk menguasai teknologi yang perkembangannya menuntut kita untuk mempelajarinya lebih dalam. Selain itu, bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi adalah kemampuan menghasilkan teks lisan dan tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan inilah yang digunakan dalam pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris baik ditingkat SMP maupun tingkat SMA agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat  tertentu.

       Di sini penulis ingin menyampaikan bahwa keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik, kenapa mereka harus mampu menguasai keterampilan  tersebut? Karena apabila mereka sudah mampu menguasai 3 keterampilan yang lainnya, maka mereka seharusnya mampu mengeksplorkan atau merealisasikan keterampilan dalam bentuk tulisan.

       Menulis text recount berarti peserta didik mampu mengembangkan keterampilan menulis jenis text/genre yang berbentuk recount. Text recount merupakan salah satu genre  yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa yang telah terjadi dan/atau peristiwa yang dialami yang telah lewat dan merupakan salah satu jenis genre yang diajarkan dari beberapa genre yang ada. Berdasarkan pembelajaran  tersebut,  idealnya peserta didik  mampu membuat tulisan berbentuk recount. Karena tulisan yang peserta didik tulis tersebut merupakan ide atau gagasan yang mereka alami dalam kehidupan mereka,  selain itu di tingkat smp merekapun sudah mempelajarinya, maka seharusnya nilai yang dicapai mereka lebih dari 75 % atau diatas KKM (70).
         Tetapi pada  kenyataannya hanya 40% yang nilainya diatas KKM, atau hanya 16 orang peserta didik dari  40 orang yang nilainya memuaskan, dan yang lainnya hasilnya tidak sesuai dengan harapan si penulis. Jadi pada umumnya peserta didik belum mampu membuat tulisan yang berbentuk  text recount, karena mereka menganggap menulis itulah yang sangat susah yang harus menuangkan ide-ide atau gagasan yang membentuk suatu paragraph yang baik  dan harus mengetahui langkah-langkah atau kriteria dalam membuat suatu tulisan yang berbentuk recount.

        Karena adanya kesenjangan pada kondisi ideal dengan kenyataan yang disebabkan oleh tidak sesuai dengan  langkah-langkah retorika, rendahnya penguasaan grammar/tenses, kurangnya kosakata, tidak mau berusaha/motivasi, tidak ada ide ,dan takut membuat kesalahan.

       Sebagai seorang guru, penulis merasa bertanggung jawab untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik dalam membuat tulisan atau karangan .
       Oleh karena itulah penulis membuat penelitian tindakan kelas dengan judul MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEXT RECOUNT MELALUI  MIND MAPPING PADA KELAS X DI SMAN 14 PEKANBARU

B. Identifikasi Masalah
        Berdasarkan identifikasi masalah sesuai dengan latar belakang diatas yaitu:
1. Tidak sesuai dengan langkah-langkah retorika
2. Rendahnya penguasaan grammar/tenses
3. Kurangnya kosa kata
4. Tidak mau berusaha/ rendahnya motivasi
5. Tidak ada ide
6. Takut membuat kesalahan

C. Pembatasan Masalah
        Berdasarkan identifikasi masalah diatas penelitian ini dibatasi hanya pada: Meningkatkan kemampuan menulis text recount melalui mind mapping pada kelas x di sman 14 Pekanbaru.

D. Rumusan Masalah
         Permasalahan yang timbul merupakan kesulitan yang timbul dalam pembelajaran B.Inggris.
    Adapun rumusan masalah tersebut adalah:
1.      Apakah melalui mind mapping dapat meningkat kemampuan menulis text recount pada kelas x di sman 14 Pekanbaru?
2.      Bagaimana respon siswa melalui mind mapping dapat meningkatkan kemampuan menulis text recount pada kelas x di sman 14 Pekanbaru?
3.      Apakah kendala-kendala yang dihadapi dalam mengajar menulis?
E. Tujuan Penelitian
    Tujuan penelitian ini adalah:
1.      Untuk menemukan data bahwa melalui mind mapping dapat meningkatkan kemampuan menulis text recount pada kelas x di sman 14 Pekanbaru
2.      Untuk mendapatkan gambaran respon siswa
3.      Untuk mendiskripsikan kendala-kendala yang dihadapi dalam mengajar menulis

f. Manfaat Penelitian
     Bagi penulis, manfaat penelitian tindakan kelas ini adalah untuk memenuhi tugas dari pelatihan TOT guru inti mgmp.

BAB II
KAJIAN TEORI/PUSTAKA

A.    KAJIAN TEORITIK
Penelitian  ini berhubungan dengan text recount dan mapping, oleh karena itu peneliti menggunakan kajian teori yaitu:
1.       Text recount
 Salah satu teks yang diajarkan di SMA adalah RECOUNT. Teks ini pada umumnya menyampaikan pengalaman yang telah dilalui oleh seseorang. Penyampainya dapat si pelaku itu sendiri, atau sebaliknya seseorang menyampaikan pengalaman orang lain. Teks recount adalah jenis teks yang menguraikan atau menceritakan kejadian atau peristiwa yang telah lewat, misalnya kecelakaan, laporan kegiatan, kunjungan ke suatu tempat, atau pengalaman lainnya.
2.      Writing dalam Text Recount
Jenis teks Recount yang sudah dikenal oleh para siswa adalah Diary, yakni tulisan yang berisi curahan perasaan yang dialami pada suatu hari. Recount yang lain adalah Biografi dan autobiografi
Ketika para siswa SMA diminta menuliskan teks berbentuk recount, setelah mereka diberi penjelasan dan contoh, ciri gramatik dan ciri bahasa dalam teks ini, para siswa mengalami kesulitan sebagai berikut:
  1. Memulai Orientation, sekalipun telah dijelaskan bahwa pada orientation harus memuat Who, What, When dan Where, atau ada Opening, beberapa menit dihabiskan hanya untuk menentukan Orientation.
  2. Tidak menggunakan Past tense. Para siswa tetap menggunakan Present untuk menceritakan kejadian yang telah lewat.
  3. Banyak meminta guru untuk menerjemahkan kata yang akan ditulisnya.
  4. Menggunakan kata dengan mencaplok dari kamus, tanpa merujuk apakah kata tersebut kelompok noun, adjective, verb atau yang lainnya, sehingga kalimatnya menjadi rancu dalam makna.
  5. Menuliskan teks secara lengkap dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu, baru kemudian diterjemahkan. Pengubahan dari bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris menjadi semakin sulit karena ada beberapa kata yang tidak mereka temukan dalam kamus Indonesia-Inggris.
  6. Menggunakan bahasa terjemahan dari Alfa link
  7. Kekurangan gagasan untuk dituangkan, sehingga ada siswa yang mengobrol
  8. Kebingungan untuk menuliskan apa, dengan alasan mereka tidak tahu harus menuliskan apa
  9. Penguasaan kosakata tidak memadai untuk mampu membuat sebuah teks yang padu.
  10. Waktu 60 menit, tidak cukup untuk membuat suatu tulisan yang memuat orientation, events, reorientation dan comment.
Badriah, 13 januari 2010

3.      Mind   Mapping (peta konsep)

a.       Pengertian Konsep
  • Konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian (Carrol: 1997).
  • Dahar (1989) menyatakan konsep merupakan dasar berpikir, untuk belajar aturan-aturan, dan akhirnya untuk memecahkan masalah.
  • Dengan demikian konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi maupun untuk pemecahan masalah.
b.      Pengertian Peta Konsep (Concept Mapping)
  • Susilo (2001) Peta Konsep adalah alat untuk mewakili adanya keterkaitan secara bermakna antar konsep sehingga membentuk proposisi. Proposisi ialah dua atau lebih konsep yang dihubungkan dengan garis yang diberi label (kata penghubung) sehingga memiliki suatu arti.
  • Peta Konsep  adalah  suatu  alat skematis untuk merepresentasikan suatu rangkaian konsep yang digambarkan  dalam suatu kerangka proposisi yang mengungkapkan hubungan-hubungan yang berarti antara konsep-konsep dan menekankan gagasan-gagasan pokok.
c.       Kegunaan Peta Konsep
  • Menunjukkan hubungan  antara ide-ide dan membantu memahami lebih baik apa yang dipelajari (Nur, 2000b).
  • Menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi.
  • Tipe ini juga dimaksudkan agar siswa lebih terampil untuk menggali pengetahuan awal yang sudah dimiliki dan memperoleh pengetahuan baru sesuai dengan pengalaman belajar.
d.      Ciri-ciri Peta Konsep
  • Peta konsep merupakan suatu cara untuk memperlihatkan  konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi kewarganegaraan, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.
  • Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.
  • Mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep, tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih berbobot dari pada konsep-konsep lain.
e.       Langkah-langkah Pembuatan Peta Konsep
1)      Memilih suatu bahan bacaan.
2)      Menentukan konsep-konsep yang relevan.
3)      Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif.
4)      Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.
5)      Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dihubungkan dengan kata hubung. Misalnya “merupakan”, “dengan”, “diperoleh”, dan lain-lain.
Bagi Guru:
  • Pemetaan konsep dapat menolong guru mengorganisir seperangkat pengalaman belajar secara keseluruhan yang akan disajikan.
  • Pemetaan konsep merupakan cara terbaik menghadirkan materi pelajaran, hal ini disebabkan peta konsep adalah alat belajar yang tidak menimbulkan efek verbal bagi siswa, karena siswa dengan mudah melihat, membaca dan mengerti makna yang diberikan.
  • Pemetaan konsep menolong guru memilih aturan pengajaran berdasarkan kerangka kerja yang hierarki, hal ini mengingat banyak materi pelajaran yang disajikan dalam urutan yang acak.
  • Membantu guru meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengajarannya.
Bagi Siswa:
  • Pemetaan konsep merupakan cara belajar yang mengembangkan proses belajar bermakna, yang akan meningkatkan pemahaman siswa dan daya ingat belajarnya.
  • Dapat meningkatkan keaktifan dan kreatifitas berpikir siwa, hal ini menimbulkan sikap kemandirian belajar yang lebih pada siswa.
  • Mengembangkan struktur kognitif yang terintegrasi dengan baik, yang akan memudahkan belajar.
  • Dapat membantu siswa melihat makna materi pelajaran secara lebih komprehensif dalam setiap komponen konsep-konsep dan mengenali hubungan antara konsep-konsep berikut.
Kelemahan Peta Konsep
  • Perlunya waktu yang cukup lama untuk menyusun peta konsep, sedangkan waktu yang tersedia di kelas sangat terbatas.
  • Sulit menentukan konsep-konsep yang terdapat pada materi yang dipelajari.
  • Sulit menentukan kata-kata untuk menghubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lain.
Cara Mengatasi
  1. Siswa diminta untuk membuat peta konsep di rumah, dan pada pertemuan berikutnya didiskusikan dalam kelas.
  2. Siswa diharapkan dapat membaca kembali materi dan memahaminya, agar dapat mengenali konsep-konsep yang ada dalam bacaan sehingga dapat mengkaitkan konsep-konsep tersebut dalam peta konsep]
Peta konsep sebagai instrumen dapat digunakan untuk  analisis konsep ,mengenai peta konsep itu sendiri berdasarkan definisinya sebagai berikut : Menurut Hudojo, et al (2002) peta konsep adalah saling keterkaitan antara konsep dan prinsip yang direpresentasikan bagai jaringan konsep yang perlu dikonstruk dan jaringan konsep hasil konstruksi inilah yang disebut peta konsep. Sedangkan menurut Suparno (dalam Basuki, 2000, h.9) peta konsep merupakan suatu bagan skematik untuk menggambarkan suatu pengertian konseptual seseorang dalam suatu rangkaian pernyataan. Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep yang penting, melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dapat digunakan dua prinsip yaitu prinsip diferensial progresif dan prinsip penyesuaian integratif.
Martin (dalam Basuki, 2000) mengungkapkan bahwa peta konsep merupakan   petunjuk   bagi  guru, untuk  menunjukkan   hubungan  antara   ide-ide   yang penting  dengan  rencana  pembelajaran. Sedangkan  menurut  Arends (dalam Basuki, 2000) menuliskan bahwa penyajian peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru. Dengan penyajian peta konsep yang baik maka siswa dapat mengingat suatu materi dengan lebih lama lagi.
Ernest (dalam Basuki, 2000) berpendapat bahwa untuk menyusun suatu peta konsep bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Tentukan dahulu topiknya,
2. Membuat daftar konsep-konsep yang relevan untuk konsep tersebut,
3. Menyusun konsep-konsep menjadi sebuah bagan,
4. Menghubungkan konsep-konsep itu dengan kata-kata supaya bisa terbentuk suatu proposisi,
5. Mengevaluasi keterkaitan konsep-konsep yang telah dibuat.
Pendapat lain untu membuat peta konsep cukup dengan 5 langkah dengan penjelasan sebagai berikut :
  1. Lakukan Brainstorming selama 10-15 menit per sesi. Ketika Central disebutkan maka konsep apa saja yang terlintas di benak dituliskan terlebih dahulu. Jangan lakukan penilaian apakah relevan atau mau diletakkan di mana.
  2. Kategorisasikan/ kelompokkan sekumpulan ide itu kemudian tentukan hirarki konsep mana yang menjadi dahan (umum), mana yang jadi ranting dan mana yang jadi daun (detil).
  3. Mulai layout / gambarkan konsep-konsep tersebut.
  4. Tarik garis antar konsep tersebut.
  5. Pergunakan warna, Ikon dan Asosiasi untuk menambah cantiknya Peta Konsep yang dihasilkan.

4.      Mind  Mapping dalam Menulis
MIND MAP SCRIBD (27 september 2011)
Mind Mapping atau
Peta Pikiran
adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh TonyBuzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yangterjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabiladilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.Dari fakta tersebut maka disimpulkan apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerjaotak, maka akan semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja
proses belajar kita akan semakin mudah
.Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utamasebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluardari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kitamempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poinpenting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin pentingtersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkangambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasaidengan baik.Beberapa hal penting dalam membuat peta pikiran ada dibawah ini, yaitu:
1. Pastikan tema utama terletak ditengah-tengah
 Contohnya, apabila kita sedang mempelajari pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia, makatema utamanya adalah Sejarah Indonesia.
2. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama
 Dari tema utama “Sejarah Indonesia”, maka tema-tema turunan dapat terdiri dari :Periode,Wilayah, Bentuk Perjuangan ,dll.
3. Cari hubungan antara setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol
 Dari setiap tema turunan tertama akan muncul lagi tema turunan kedua, ketiga dan seterusnya.Maka langkah berikutnya adalah mencari hubungan yang ada antara setiap tema turunan.Gunakan garis, warna, panah atau cabang dan bentuk-bentuk simbol lain untuk menggambarkanhubungan diantara tema-tema turunan tersebut..Pola-pola hubungan ini akan membantu kita memahami topik yang sedang kita baca. Selain ituPeta Pikiran yang telah dimodifikasi dengan simbol dan lambang yang sesuai dengan selera kita,
akan jauh lebih bermakna dan menarik dibandingkan Peta Pikiran yang “miskin warna”. 
4. Gunakan huruf besar
 Huruf besar akan mendorong kita untuk hanya menuliskan poin-poin penting saja di PetaPikiran. Selain itu, membaca suatu kalimat dalam gambar akan jauh lebih mudah apabila dalam
 
huruf besar dibandingkan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil bisa diterapkan pada poin-poinyang sifatnya menjelaskan poin kunci.
5. Buat peta pikiran di kertas polos dan hilangkan proses edit
 Ide dari Peta Pikiran adalah agar kita berpikir kreatif. Karenanya gunakan kertas polos dan jangan mudah tergoda untuk memodifikasi Peta Pikiran pada tahap-tahap awal. Karena apabilakita terlalu dini melakukan modifikasi pada Peta Pikiran, maka sering kali fokus kita akanberubah sehingga menghambat penyerapan pemahaman tema yang sedang kita pelajari.
6. Sisakan ruangan untuk penambahan tema
 Peta Pikiran yang bermanfaat biasanya adalah yang telah dilakukan penambahan tema danmodifikasi berulang kali selama beberapa waktu. Setelah menggambar Peta Pikiran versipertama, biasanya kita akan menambahkan informasi, menulis pertanyaan atau menandai poin-poin penting. Karenanya selalu sisakan ruang di kertas Peta Pikiran untuk penambahan tema.

B.     Penelitian yang relevan
C.    Kerangka Berfikir
 SISWA                             Text Recount                   
                                            Writing                        mind mapping

                                                                                  Kemampuan menulis

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mencapai hasil belajar siswa dan dilakukan di kelas tempat penulis mengajar. Metodologi penelitian adalah sebagai berikut:
A.    Setting Penelitian
1.      Tempat
Penelitian ini diadakan di SMAN 14 pekanbaru terletak di jln. Tengku bey jl. Kaharudin Nasution , karena penulis mengajar di sekolah tersebut di kelas x, dikelas ini ada 4 lokal, lokal yang dipilih adalah kelas x4, karena kelas ini adalah kelas yang hasil belajarnya paling rendah diantara kelas yang lain.
2.      Waktu
Waktu ini di laksanakan selama 3 bulan ..
3.      Subject
Kelas X4  berjumlah 40 orang, laki-laki berjumlah 16 orang dan perempuan berjumlah 24 orang.
B.      Prosedur Penelitian
Prosedur ini dilaksanakan dalam 3 siklus.
 Siklus I    : mencari Materi, membuat rpp,memberikan pretest (boleh ada), memberikan tindakan atau perlakuan, memberikan pengujian.
Siklus  II  : menganalisa hasil ( prestest, tindakan dsb), refleksi, memberikan tindakan.
Siklus III: menganalisa hasil dan refleksi
C.     Instrumen Penelitian
Instrument penelitian merupakan test tertulis berupa penugasan, lembaran observasi.
D.    Analisis data
Keberhasilan penelitian ini ditentukan dari  hasil belajar dan respon siswa oleh karena itu instrument digunakan test tertulis dari setiap siklus, analisa data dilakukan dengan melihat peningkatan hasil dari siklus I ,II,III yang dijelaskan berupa angka dan deskripsi kemajuan, sedangkan respon siswa instrumen yang digunakan adalah lembaran pengamatan dan data akan dianalisa melalui deskripsi respon siswa selama proses belajar siswa berlangsung.
Read More >>